perusakan hutan di indonesia.
DULU KEKAYAAN HUTAN DI INDONESIA
Indonesia dengan hutan dan ekosistem lainnya, merupakan negara dengan kekayaan dan keanekaragaman hayati pada urutan kedua setelah Brazil, sehingga menempatkan negara tersebut sebagai negara megabiodiversitas dan mega center keanekaragaman hayati dunia. Sebanyak 10% hutan hujan dunia terletak di wilayah Indonesia, bahkan 50 tahun lalu 82% wilayah Indonesia tertutup oleh hutan.
Namun demikian, keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya semakin hari semakin terancam keberadaannya, akibat deforestasi dan perburuan liar. Perusakan hutan tanpa ampun demi memperoleh keuntungan dari kertas dan bubur kertas, kelapa sawit, serta pertambangan menyebabkan tutupan hutan di Indonesia hanya tinggal 48% dalam dekade terakhir. Terlebih, hutan Indonesia memiliki tingkat deforestasi yang paling cepat dibandingkan negara lain di seluruh dunia.
Namun demikian, keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya semakin hari semakin terancam keberadaannya, akibat deforestasi dan perburuan liar. Perusakan hutan tanpa ampun demi memperoleh keuntungan dari kertas dan bubur kertas, kelapa sawit, serta pertambangan menyebabkan tutupan hutan di Indonesia hanya tinggal 48% dalam dekade terakhir. Terlebih, hutan Indonesia memiliki tingkat deforestasi yang paling cepat dibandingkan negara lain di seluruh dunia.
Belum lagi, gelar sebagai negara dengan megabiodiversitas tampaknya harus membuat Indonesia malu atas daftar panjang terkait satwa liar yang terancam punah. Sebanyak 184 jenis mamalia, 119 jenis burung, 32 jenis reptil, dan 32 jenis amphibi tercatat sebagai satwa terancam punah oleh IUCN (2011).
Perubahan iklim yang melanda dunia bukan saja diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Greenpeace dalam laporannya, Hutan Tropis Indonesia dan Krisis Iklimmenyatakan bahwa kerusakan hutan tropis bertanggung jawab atas seperlima emisi gas rumah kaca di bumi, jumlah yang lebih banyak dari akumulasi emisi dari pesawat, mobil, dan mobil di seluruh dunia. Singkatnya, dijelaskan bahwa perusakan dan degradasi hutan berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dalam dua hal, yaitu (1) perambahan dan pembakaran hutan melepaskan CO 2 ke atmosfir serta (2) rusaknya hutan akan mengurangi area hutan yang menyerap CO 2
Perubahan iklim yang melanda dunia bukan saja diakibatkan oleh pembakaran bahan bakar fosil. Greenpeace dalam laporannya, Hutan Tropis Indonesia dan Krisis Iklimmenyatakan bahwa kerusakan hutan tropis bertanggung jawab atas seperlima emisi gas rumah kaca di bumi, jumlah yang lebih banyak dari akumulasi emisi dari pesawat, mobil, dan mobil di seluruh dunia. Singkatnya, dijelaskan bahwa perusakan dan degradasi hutan berpengaruh besar terhadap perubahan iklim dalam dua hal, yaitu (1) perambahan dan pembakaran hutan melepaskan CO 2 ke atmosfir serta (2) rusaknya hutan akan mengurangi area hutan yang menyerap CO 2
Contoh kecil perusakan hutan di indonesia
contoh kecil di sumatera, perusakan atau pembakaran hutan dii sebabkan oleh oknum "tidak bertanggung jawab. Percaya atau tidak, ternyata hanya satu persen kebakaran hutan di Sumatera, khususnya Riau yang disebabkan karena ketidaksengajaan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana belum lama ini melansir fakta mengejutkan yang menyebutkan sebanyak 99,9 persen kebakaran hutan dan lahan adalah perbuatan yang disengaja!
Berdasarkan temuan dari Polda Riau dan Badan Reserse Kriminal Polri, untuk pembukaan lahan pribadi di area kawasan hutan Riau dengan cara dibakar hanya butuh dana Rp 600-800 ribu saja per hektarenya. Namun jika pembukaan lahan dilakukan dengan tanpa membakar, akan butuh dana Rp 3, 4 juta per hektarenya. Jika tanpa membakar, membuka lahan dapat dilakukan dengan menyewa buldozer atau mempekerjakan karyawan untuk membabat lahan sampai bersih kembali.
Selain biaya tindakan, modal yang harus dikeluarkan pemilik lahan untuk membayar orang membakar lahan pun tak seberapa mahal. Mereka hanya harus mengeluarkan Rp 500-700 ribu untuk membakar lahan dengan rata-rata seluas 10 hektare.
Mirisnya, semua perhitungan untung rugi yang diperkirakan untuk membakar lahan karena alasan lebih hemat dan cepat tak sebanding dengan dampak kerugian yang ditimbulkannya. BNPB menyebutkan setidaknya kerugian yang disebabkan karena kebakaran hutan pada Februari-April 2014 di Riau saja mencapai Rp 20 triliun.
Selain alasan hemat dana, motif lain yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa pembakaran lahan yang terjadi di Sumatera merupakan ulah orang-orang atau kelompok yang terorganisir. Dilansir dari situs CNN Indonesia, Mereka bergabung dalam bentuk koperasi untuk membuka kebun kelapa sawit baru yang mudah dan murah. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan konflik antara penguasa dan pemerintah.
Parahnya lagi, perusahaan kelapa sawit yang menjadi tersangka pelaku kebakaran hutan biasanya menolak untuk mengakui bahwa kebakaran hutan dan lahan merupakan ulahnya. Terlebih, jika sudah terlanjur kejadian kebakaran hutan besar, perusahaan kelapa sawit yang mengaku memiliki lahannya tak bisa menangani kebakaran di arealnya karena minimnya alat dan sumber daya.
Jelas sudah motif utama mengapa kebakaran hutan makin sering terjadi di Sumatera, Selain karena faktor teriknya matahari musim kemarau dan keringnya angin El Nino, ternyata ada motif lain yang termasuk dalam tindakan kriminal karena sengaja membakar hutan.
Katanya sih kebakaran hutan, tapi nyatanya Pembakaran Hutan!
Kita seharusnya bangga pada negara kita yang kaya akan isinya, salah satunya hutan ..., kenapa sih harus di rusak (pembakaran) hanya untuk kepentingan sendiri ... Terjadinya bencana di indonesia seperti banjir, tanah longsor, kekeringan air itu di sebab karena kurangnya hutan.Jika hutan semakin berkurang kan kita sendiri yang kena dampaknya apa lagi Hutan merupakan salah satu bagian paling penting dalam kehidupan manusia. Tanpa hutan keberadaan kehidupan di bumi tidak dapat mungkin terjadi. Tidak hanya menyediakan oksigen tetapi juga banyak manfaat lain yang berhubungan dengan eksistensi manusia di Bumi.
#JAGALAH HUTAN KITA KARENA HUTAN KITA RUMAH KITA




